Senin, 05 April 2010

ASKEP GANGGUAN KESADARAN

TAK SADAR / KOMA : suatu keadaan tidak dapat dibangunkan dan tidak memberi respon terhadap semua rangsangan baik dari dalam maupun dari luar.
PENURUNAN KESADARAN : meliputi seluruh spectrum penurunan kesadaran dari mulai hanya mengantuk sampai koma
Penyebab
1. Infark miokard akut
2. Gangguan mekanis akut
o Ruptur katup mitral atau katup aorta
o Defek akut septum ventrikel
3. Bedah kardiovaskuler
4. Gagal jantung kongestif :
o Iskemia
o Kardiamiopati
o Hipertensi
o Penyakit jantung katup
Pencetus
1. Iskemia miokard atau infark
2. Anemia : takikardia atau bradikardia
3. Infeksi : Endokarditis, miokarditis atau infeksi di luar jantung
4. Emboli paru
5. Kelebihan cairan atau Natrium
6. Obat penekan miokard seperti penghambat beta
7. Lain-lain: kehamilan, tirotoksikosis, anemia, stress (fisik atau emosi), hipertensi akut
Tanda Klinis
• Tekanan darah sistolik < 80 mmHg
• Produksi urin < 20 ml/hari
• Penurunan status mental
• Tekanan pengisian ventrikel kiri > 12 mmHg
• Tekanan vena sentral > 10 mmHg …….(Scheidt.1973)
Gejala Klinis :
• Gelisah
• Keringat
• Akral dingin
• Takikardia

Penderita syok memerlukan pemantauan dan penanganan secara intesif disebabkan ?
• Syok terjadi hipoperfusi memperburuk oksigenasi dan nutrisi sel dan pembunangan hasil metabolisme
• Metabolisme sel anaerob terbentuk asam laktat terjadi karusakan sel dan kerusakan multisistem
• Lingkaran setan syok harus ditangani secara progresif

Tahap Syok
Tahap 1 : Syok terkompensasi (non progresif)
Respon kompensasi dapat menstabilkan sirkulasi
Tahap 2 : Tahap progresif
Manifestasi sistemik dari hipoperfusi dan kemunduran fungsi organ
Tahap 3 : Refrakter (irreversibel)
Kerusakan sel hebat, yang menuju kematian
Kondisi Pasien Sesuai Tahap Syok
Tahap Kompensasi Tahap Progresif Tahap Ireversibel
Frekuensi jantung > 100 kali/menit > 150 menit Melemah
Tekanan darah Normal TDS<80-90 mmHg Th/, IABP, Inotropik
Status respirasi > 20 Cepat, dangkal ronki Th/ Intubasi
Kulit Dingin, kusam Bercak, petekie Ikterik
Urin Menurun < 20 ml/jam Anuria Th/Dialisis
Kondisi mental Gangguan konsentrasi Letargi Tidak sadar
Keseimbangan Asam Basa Alkalosis Respiratorik Asidosis Metabolik Asidosis hebat

Penatalaksanaan
1. Pengobatan :
Tujuan pengobatan :
 Membatasi luas infark/iskemia miokard
 Pengurangan kebutuhan oksigen otot jantung
 Memperbaiki suplai reperfusi infar/iskemia miokard
 Angka kejadian syok kardiogenik 4% bila pasien mendapat pengobatan dalam 3 jam sejak mulai infark/iskemia miokard
 Pengenalan dini dan penanganan agresif gagal jantung atau kongesti apru, hipovolume atau hipotensi dan takikardia yang memperberat iskemia miokard dapat mencegah kegawatan syok kardiogenik
2. Pemberian Intra Aortic Ballon Pump (IABP)
Pasa pasien perburukan hemodinamik sistolik < 90 mmHg
3. Reperfusi dini miokard
Obat trombolisis infark miokard, bila tidak berhasil dilakukan PTCA atau bedah jantung. (ideal dalam 2-4 jam sejak mulainya sakit dada infark amiokard)

Pemberian Obat Melalui Syring Pump
• Syring pump adalah alat untuk pemberian obat intravena dengan akurasi dosis tepat dalam ml/jam.
• Perhitungan dosis : diberikan dalam 60 menit/pengenceran 50 ml.
• Perubahan dosis : mencantumkan catatan perhitungan pemberian dosis obat.

Pemberian Dopamin
Dopamin : Adalah jenis inotropik untuk menstimulasi beta adrenergik dan reseptor dopaminergic Digunakan untuk meningkatkan tekanan darah, curah jantung dan produksi urin pada pasien syok kardiogenik dan efek terapi gagal jantung kongestif.
Dosis rendah : 0,5-2 mikrogram/kg BB/menit. Dopaminergik vasodilatasi vaskular renal.
Dosis sedang : 2-5 mikrogram/kg BB/menit. Dopaminergenik alpha dan beta miokard terhadap pelepasan norephineprin, curah jantung, tekanan darah dan denyut jantung meningkat.
Dosis tinggi : 5-10 mikrogram/kg BB/menit. Dopaminergenik vasokonstruksi arteriole dan vena sehingga tekanan darah meningka
Pemberian Dobutamin
Dobutamin adalah murni menstimulasi adrenoreseptor jantung sehingga meningkatkan kontraktilitas.
Dosis rendah : 2-5 mikrogram/kg BB/menit. Meningkatkan curah jantung.
Dosis sedang : 5-10 mikrogram/kg BB/menit. Meningkatkan curah jantung disertai penurunan tekanan kafiler paru-paru.
Dosis tinggi : 10-20 mikrogram/kg BB/menit. Meningkatkan curah jantung
• Dobutamin sering dikombinasikan dopamin, efektif mengatasi syok kardiogenik dan edema paru.
• Dikombinasikan dengan sodium nitropruside (nitrat), menyebabkan vasodilatasi vena dan arteri sehingga menurunkan preload dan afterload
DIAGNOSA KEPERAWATAN KRITERIA HASIL ASUHAN KEPERAWATAN
Penurunan curah jantung b.d kerusakan fungsi jantung Curah jantung menjamin perfusi jaringan memadai • Pantau status kardiovaskular: warna kulit, denyut nadi, TD, hemodinamik, nadi perifer, irama jantung, suhu
• Berikan IVFD sesuai indikasi
• Berikan dopamin, dobutamin untuk mempertahankan TD sistolik > 90 mmHg
• Berikan nitrat sesuai indikasi
• Pantau Hb dan Ht
• Pantau asidosis AGD
• Balans cairan
• Pantau status neurologis
• Pantau urin (bila < 30 ml/jam berikan dierutik sesuai indikasi)
• Pantau bisng usus
• Pantau SGOT, SGPT, BUN, Kreatin, albumin, GDS, elektrolit

ASKEP TIROIDEKTOMI

A. Tiroidektomi parsial atau total dapat dilaksanakan sebagai terapi primer terhadap karsinoma tiroid, hipertiroidisme, dan hiperparatiroidisme
• Tiroidektomi total : kelenjar tiroid diangkata seluruhnya
• Tiroidektomi parsial : mengangkat sebagian kelenjar tiroid
B. Perawatan pre-operasi
1. Kadar hormon tiroid harus diupayakan dalam keadaan normal
2. Pemberian obat antitiroid masih tetap dipertahankan disamping menurunkan kadar hormon darah
3. Masalah jantung juga sudah harus teratasi
4. Kondisi nutrisi harus optimal, diet tinggi protein dan karbohidrat
5. Latih klien cara batuk yang efektif dan latih napas dalam
6. Ajarkan cara mengurangi peregangan pada luka operasi akibat rangsangan batuk dengan menahan di bawah, insisi dengan kedua tangan
7. Beri tahu pasien kemungkinan suara menjadi serak setelah operasi jelaskan bahwa itu adalah hal yang wajar dan dapat kembali seperti semula
C. Perawatan pasca operasi
1. Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai stabil dan kemudian lanjutkan setiap 30 menit selama 6 jam
2. Gunakan bantal pasir atau bantal tambahan untuk menahan posisi kepala tetap ekstensi sampai klien sadar penuh
o Bila sadar, berikan posisi semi fowler, apabila memindahkan klien hindarkan penekanan pada daerah insisi
o Berikan obat analgesic sesuai program terapi
o Bantu klien batuk dan napas dalam setiap 30 menit
o Gunakan penghisap oral atau trachea sesuai kebutuhan
o Monitor komplikasi a/l :
 Perdarahan
 Distress pernapasan
 Hipokalsemia akibat pengangkatan paratiroid yang ditandai dengan tetani
 Kerusakan saraf laringeal
D. Pendidikan kesehatan
1. Penggunaan obat-obatan. Konsistensi waktu sangat perlu diperhatikan
2. Gunakan kipas angin/van atau ruangan ber AC agar klien dapat beristirahat
3. Pada klien dengan tiroidektomi total atau penggunaan obat antitiroid, jelaskan tanda hipotiroidisme dan hipertiroidisme
4. Jelaskan pada keluarga penyebab emosi yang labil pada klien dan bantu mereka untuk dapat menerima dan mengadaptasinya.
5. Ajarkan untuk followup secara teratur ketempat pelayanan terdekat

Asuhan Keperawatan
A, Pengkajian
Pengkajian secara pasien bedah saat kembali ke unit terdiri atas :
1. Respirasi
• Kepatenan jalan napas
• Kedalaman
• Frekuensi
• Bunyi napas
2. Sirkulasi
• tanda-tanda vital : T/D, suhu, nadi
• kondisi kulit : dingin, basah
• sianotis
3. Neurologi :
• tingkat respons
• neurosensori
• fungsi bicara :
• kualitas dan tonasi
4. Drainase :
• Mengantisipasi perdarahan :
Perhatikan cairan drainase yang keluar khususnya 24 jam pertama pasca operasi.
• Inspeksi balutan luka.
5. Kenyamanan
• Tipe nyeri dan lokasi
• Mual dan muntah
• Perubahan posisi yang dibutuhkan
6. Keselamatan :
Kebutuhan akan pagar tempat tidur
7. Peralatan : diperiksa untuk fungsi yang baik

B. Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan I
Bersihkan jalan napas tak efektif yang b/d obstruksi akibat perdarahan atau edema daerah insisi.
Tujuan
• Mempertahankan jalan napas paten
• Aspirasi di cegah
Intervensi Keperawatan
• Pantau tanda-tanda distress pernapasan, sianosis, takipnea
• Auskultasi suara napas setiap 2 jam, catat adanya suara ronki
• Periksa balutan luka setiap jam selama periode pertama pasca operasi dan kemudian dilakukan setiap 4 jam
• Pertahankan posisi semi fowler
• Gunakan kirbat es untuk mengurangi edema di daerah sekitar insisi
• Lakukan penghisapan pada mulut dan trachea sesuai dengan indikasi, catat warna dan karakteristik sputum

Diagnosa keperawatan II
Komunikasi, kerusakan; verbal yang b/d cedera pita suara, kerusakan saraf laring
Tujuan
Mampu menciptakan metode komunikasi di mana kebutuhan dapat dipahami
Intervensi keperawatan
• Kaji fungsi bicara secara periodik
• Anjurkan untuk tidak bicara terus menerus
• Pertahankan komunikasi yang sederhana
• Berikan metode komunikasi alternatif yang sesuai
• Pertahankan lingkungan yang tenang
Diagnosa Keperawatan III
Nyeri yang berhubungan dengan insisi pada kelenjar tiroid
Tujuan
Klien mengalami nyeri yang minimal.
Intervensi Keperawatan
• Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala penilaian nyeri
• Letakkan klien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala atau leher dengan bantal pasir atau bantal kecil
• Ajarkan klien cara menopang leher dan kepala saat merubah posisi
• Tempatkan bel pemanggil disisi klien agar mudah digunakan
• Pertahankan lingkungan yang tenang, kurangi stresor
• Kolaborasi :
o Berikan obat analgetik sesuai program
o Berikan minuman yang sejuk atau makanan yang lunak seperti es krim.

Diagnosa Keperawatan IV
Resiko tinggi terhadap tetani yang b/d ketidak seimbangan kimia dan stimulasi SSP yang berlebihan
Tujuan
Cedera dengan komplikasi minimal/terkontrol
Intervensi Keperawatan
• Pantau tanda-tanda vital, catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardia <140- 200 x/m, disritmia, distres pernapasan, sianosis.
• Observasi adanya peka rangsang, misalnya : gerakan tersentak, kebas
• Pertahankan penghalang tempat tidur
• Kolaborasi :
o Pantau kadar kalsium darah
o Berikan obat sesuai indikasi
o Sedative
o Antikonvulsan
C. Implementasi
Dilaksanakan sesuai dengan intervensi keperawatan, melaksanakan setiap tindakan sesuai dengan prosedur yang ditentukan dan sesuai dengan kondisi klien

E. Evaluasi
Evaluasi di sesuaikan dengan kriteria hasil yang ingin dicapai :
• Mempertahankan jalan napas paten
• Aspirasi dicegah
• Mampu menciptakan metode komunikasi di mana kebutuhan dapat dipahami
• Mengalami nyeri yang minimal
• Cidera dengan komplikasi minimal

DAFTAR PUSTAKA
 Marilynn E. DOENGES. 1999 Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3, Jakarta ; EGC
 Zlizanne dan Brenda. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner dan Suddarth Vol 1,2, edisi 8, Jakarta ; EGC.

ASKEP ULKUS PEPTIKUM

TIK : Setelah membaca tulisan inii , perawat diharapkan mampu :
1. Menjelaskan tentang penyebab Ulkus Peptikum
2. Menjelaskan proses patofisiologi terjadinya Ulkus Peptikum
3. Menjelaskan tentang klasifikasi Ulkus Peptikum
4. Menjelaskan tentang pengkajian yang harus dilakukan/ditanyakan pada pasien dan keluarga yang menderita Ulkus Peptikum
5. Membuat analisa data dan menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien yang mengalami Ulkus Peptikum
6. Merumuskan rencana keperawatan pada pasien yang mengalami Ulkus Peptikum


PENGERTIAN
Ulserasi pada jaringan mukosa, sub mukosa dan lapisan otot saluran pencernaan bagian atas yang dapat terjadi di esophagus . gaster, duodenum dan jejenum. Ulkus duodenum lebih sering terjadi dari pada ulkus gaster, dan banyak dialami oleh pria berusia 25 – 50 tahun. Sedangkan ulkus gaster terjadi pada usia diatas 50 tahun. Ulkus peptikum ini bisa merupakan komplikasi dari gastritis.

ETIOLOGI
Penyebab yang pasti belum diketahui namun beberapa kasus berhubungan dengan peningkatan sekresi asam lambung dan lemahnya barier mukosa lambung.
PATOFISIOLOGI
Terjadinya ulserasi pada duodenum dan pada gaster mempunyai mekanismeyang berbeda. Normalnya asam bebas yang telah disekresikan ke dalam lambung didifusi kembali secara perlahan-lahan di dalam jaringan
Difusi yang cepat menyebabkan reaksi peradangan di dalam jaringan sehingga menimbulkan kerusakan dan perdarahan. Difusi yang cepat ini disebabkan oleh lemahnya barier mukosa lambung. Melemahnya baier mukosa lambung dapat sebabkan oleh:
1. Alkhohol
2. Obat-obatan seperti asam salisilat
3. Asam empedu (aliran balik cairan empedu ke duodenum akibat rokok)
Terjadinya ulserasi duodenal disebabkan oleh peningkatan sekresi asam lambung. Asam lambung yang berlebihan menyebabkan asam lambung turun ke duodenum dan menyebabkan ulserasi. Ulserasi gaster disebabkan oleh difusi asam lambung yang secapat sementera sekresinya normal.

FAKTOR PREDEPOSISI ULKUS PEPTIKUM
Beberapa faktor-faktor diidentifikasi sebagai kondisi yang memudahkan terjadinya ulkus peptikum yaitu:
1. Kebiasaan merokok
2. Penggunaan obat-obatan seperti obat golongan salisilat
3. Stres psikologik
4. Pola makan yang tidak teratur
5. Kebiasaan minum alkhohol
6. Radiasi.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Data subjektif berfokus pada keluhan yang dirasakan pasien seperti:
1. Nyeri epigastrium
2. Perasaan pnum
3. Mual dab muntah
4. Anoreksia
5. hematemesis dan melena
6. Pola makan dan diet
7. Kebiasaan mengkonsumsi kopi dan alkhohol
8. Penggunaan obat-obatan
9. Sterssor individu dan keluarga
10. Pekerjaan dan gaya hidup
11. Pola koping yang biasa dan pmecahan masalah

Karakteristik nyeri pada ulkus gaster dan duodenal
Aktifitas D u o d e n a l G a s t e r
Lokasi Sebelah kanan epigastrium Diatas epgastrium
Makan Nyeri akan berkurang atauN Nyeri bertambah dengan makanan khususnya
hilang dengan makan atau pemberian antiasida setelah minum cairan hangat
Tidur Sering terbangun dari tidur Sepanjang hari


Data Objektif diperoleh dengan mengobservasi banyak hal yang berhubungan dengan adanya ulserasi dan dampak yang ditimbulkan seperti :
1. Ekspresi wajah meringis menahan nyeri
2. Distensi abdomen
3. Nyeri tekan pada epigastrium
4. Warna konjungtiva dan kulit yang mengindikasikan anemia
5. Urin out-put : warna dan jumlah
6. Warna faecesdan frekuensi defekasi
7. Peristaltik usus
8. Bentuk abdomen : cekung atau cembung
9. Tanda-tanda vital seperti : suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah.
10. Analisis terhadap pemeriksaan diagnostik seperti : Esophago gastroduodenoscopi, pemeriksaan BNO, pemeriksaan darah dalam faeces, darah lengkap.

PENGOBATAN PADA ULKUS PEPTIKUM
Tujuan pemberian obat-obatan pada ulkus peptikum adalah mengistirahatkan lambung. Berbagai obat yang diberikan mempunyai mekanisme yang berbeda seperti:
a. Antagonis HP2 reseptor
b. Antikolinergik
c. Anti sekreteari
d. Obat untuk menetralkan asam lambung
e. Obat untuk melindungi barier mukosa lambung

a. Antagonis HP2 reseptor
Obat ini menghambat pengeluaran histamin yang dapat merangsang sekresi Hcl. Contoh adalah ranitidine (zantac) dan cetidine(tagamet). Diberikan sebagai dosis tunggal menjelang tidur malam hari atau pada malam hari.
b. Antikolinergik
Obat ini menurunkan stimulasi vaga dengan menghambat astil kolin. Motilitas lambung akan menurun dan sekresi gaster dihambat. Contoh dicyclomine (bentyl) dan propantheline (propanthel). Dapat diberikan bersama-sama dengan obat lain. Sangat efektif untuk mengurangi sekresi lambung. Efek samping: pandanga kabur, konstipasi, retensi urine dan takhikardi.
c. Anti sekretori
Obat ini menekan sis enzym ATP ase dalam memproduksi asam lambung. Contoh obatnya adalah ameprazole (prilosec, losec) Diberikan dosis tunggal menjelang tidur.
d. Obat untuk menetralkan asam lambung (antasida)
Obat ini menurunkan keasaman asam lambung. Digunakan secara teratur sehabis makan. Antasida efektif antara ½ - 3 jam. Untuk ulser yang aktif antasida dapat diberikan setiap 3 jam dan menjelang tidur. Contoh obatnya adalah Mylanta, gelusil pemberiannya di kombinasikan.
Jins antasida tidak boleh diberikan bersama-sama dengan jenis Antagonis H2 reseptor seperti tagamat. Jarak penggunaanya ½ - 1 jam. Tagamet diberikan1/2 jam sebelum makan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin dijumpai pada pasien dengan ulkus peptikum antara lain:
1. Nyeri berhubungan dengan ulserasi mukosa gaster dan duodenum
2. Resiko terjadinya gangguan perfusi jaaringan (gastrointestinal) berhubungan dengan perdarahan, perporasi dan obstruksi.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, nausea dan pembatasan diet.
4. Gangguan pola tidur dan istirahat berhubungan dengan nyeri
5. Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan pasien tentang penyakitnya.
6. Resiko kekambuhan berhubungan dengan kurang pengetahuan pasien tentang ; diet, obat-obatan, tanda dan gejala yang diwaspadai.
PERENCANAAN KPERAWATAN
Diagnosa keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan ulserasi mukosa gaster dan duodenum
Intervensi Keperawatan :
a. Observasi tanda-tanda nyeri, seperti : tingkat nyeri, dorasi, frekuensi, penyebaran nyeri.
b. Berikan diet cair atau lunak tanpa serat bila tidak ada kontra indikasi seperti perdarahan dan perforasi. Minum susu diajurkan dalam porsi kecil
c. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program pengobatan.
d. Hindarkan makanan yang mengandung coklat, cafeien dan jenis-jenis lain yang dapat merangsang sekresi Hcl
Diagnosa keperawatan
2. Resiko terjadinya gangguan perfusi jaaringan (gastrointestinal) berhubungan dengan perdarahan, perporasi dan obstruksi.
Intervensi Keperawatan :
a. Monitor dan kenali lebih dini tanda-tanda komplikasi seperti distensi abdomen, hematesesis dan melena, penuruna kesadaran, hipotensi, nadi cepat, suhu tinggi, perasaan penuh. Kolborasi dengan tim medis bila dijumpai tanda-tanda tersebut.
b. Pertahankan bed res total di tempat tidur
c. Lakukan penanganan terhadap kompilkasi bila ada :
Perdarahan:
• Puasakan pasien
• Pemasangan NGT, observasi jumlah perdarahan
• Lavage lambung dengan NaCl dingin
• Kaji tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, suhu, serta tanda-tanda shock seperti diaphoresis dan tachikardi, hipotensi, penurunan kesadaran
d. Monitoring Hb, Ht dan serum electrolit
e. Pertahankan pemberian cairan perparentral
f. Kolaborasi untuk pemberian vasopresin sesuai program , dan kaji efek samping pemberian vasopresin, seperti: nyeri daerah injeksi, nyeri dada, nausea muntah, kram abdomen, intoksikasi air.
g. Kolborasi tindakan endoskopi elektrocoagulation, untuk menghentikan perdarahn
h. Pemberian obat-obata untuk menghentikan peningkatkan pH asam lambung, seperti : antacid, zantac, tagamet

Diagnosa keperawatan
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, nausea dan pembatasan diet.
Intervensi Keperawatan :
a. Bila pasien puasa kolaborasi pemberian nutrisi perparentral (TPN)
b. Bila pasien tidak puasa, beri makanan dengan porsi kecil tetapi sering serta bervariasi
c. Timbang berat badan 2 hari sekali
d. Cek Hb pasien seminggu sekali
e. Kolborasi untuk pemberian nutrisi tambahan

Diagnosa keperawatan
4. Gangguan pola tidur dan istirahat berhubungan dengan nyeri
Intervensi Keperawatan :
a. Hindarkan makanan (berat maupun ringan) 1 jam sebelum tidur
b. Memberi obat-obatan sesuai program , misalnya: obat-obata yang dimakan malam hari sebelum tidur.
c. Minum susu porsi kecil (150 cc) 1 jam sebelum tidur

PENDIDIKAN KESEHATAN UNTUK PASIEN DENGAN ULKUS PEPTIKUM
a. Pengobatan
1. Menjelaskan dosis, cara pemberian, cara kerja dan efek samping obat
2. Lanjutkan obat untuk waktu yang ditentukan, walaupun ketika gejala tidak ada
3. Usahakan agar setiap saat mudah mendapatkan antasida
4. Antisipasi peningkatan kebutuhan akan antasida selama periode-periode stress.
5. Hindarkan pengobatan sendiri dengan antasida sitemik (bicarbonat soda) yang merubah keseimbangan asam basa
6. Hindarkan obat-obatan ulcerogenik : salisilat, ibuproten, kortikosteroid

b. Merokok
1. Berhenti merokok jika mungkin
2. Jika menghentikan merokok menyebabkan peningkatan rasa tidak nyaman dari stress, anjurkan untuk mengurangi jumlah rokoknya
c. Makan
1. Makanlah 3 kali makanan seimbang dalam sehari
2. Makanlah snack diantara waktu makan jika ini membantu mengurangi rasa nyeri
3. Hindarkan makanan yang meningkatkan rasa tidak nyaman/merangsang sekresi asam
4. Jika minum alkhohol, minumlah dalam jumlah sedang dan tidak pada waktu lambung kosong
5. hindarkan stress pada waktu makan dan istirahat untuk beberapa saat setelah makan
6. Bila mungkin tidak emngkomsumsi alkhohol

d. Relaxasi dan reduksi stress
1. Berpasrtisipasilah dalam rekreasi dan hobi yang meningkatkan relaxasi
2. Tidur malam yang baik dengan waktu yang teratur
3. Gunakan teknik relaxasi untuk menurunkanstress
4. berpartisipasilah dalam program latihan yang baik untuk meningkatkan kesehatan
5. Aturlah lingkungan rumah dan tempat kerja untuk menjaga agar stressor pada tingkatan yang wajar
6. Hindarkan faktor-faktor yang diketahui dapat meningkatan gejala-gejala jika mungkin

Minggu, 04 April 2010

ASKEP KEBUTUHAN KEAMANAN & KESELAMATAN

A. Pengkajian
1. Biodata:
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, tgl
masuk RS, pendidikan & penaggung klien
2. Keluhan utama:
a. Alasan klien masuk Rumah Sakit
b. Lemah, suhu meningkat, respirasi, anoreksia
c. Gejala peradangan
d. Riwayat perawatan Pasien berisiko infeksi:
o Riwayat imunisasi ( anak )
o Riwayat penyakit infeksi sebelumnya dan penanganannya
o Mengalami sakit infeksi secara berulang.
o Riwayat pemakaian Obat seperti :anti neoplasma, anti inflamasi, antibiotik, kortikosteroid
o Mendapat prosedur diaqnostik / therapy yang melukai kulit / jaringan
o Status nutrisi : diet
o Keadaan / kejadian stress yang dialami
3. Data fisik
a. Lokal:
o Bengkak (Tumor)
o Kemerahan (Rubor)
o Nyeri tekan (Dolor)
o Panas pada lokasi infeksi (Kalor)
o Kehilangan fungsi bagian yang terkena (fungsi laesa)
c. Sistemik:
o Demam, HR/RR meningkat
o Lemah dan kehilangan
o Anoreksia / mual – mual
o Pembesaran kelenjar limfe
d. Sistem pernafasan:
o Hidung dan sinus:
Adanya secret, bau, bengkak, penciuman terganggu
o Pharing dan trachea
Pembengkakan tonsil, nyeri menelan, kering
o Data laboratorium:
 Peningkatan sel leukosyt
 Peningkatan leucocyt spesifik
- Neutrofil meningkat pada supuratif infeksi dan menurunkan pada infeksi bakteri
- Limfosit : meningkatkan pada infeksi bakteri kronis dan infeksi virus
B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko/aktual infeksi b/d
 Kurang/tidak adanya imunisasi
 Integritas kulit kurang baik
 Penyakit kronis
 Pengobatan dengan kortikosteroid
 Khemotherapi
 Pembedahan
 Efek tindakan invasive
 Malnutrisi
2. Risiko isolasi sosial b/d kesalahan informasi
tentang transmisi dari mikroorganisme.
3. Resiko menurunnya aktivitas b/d
 Menderita penyakit menular
 Lingkungan Rumah Sakit yang monoton
Diagnosa keperawatan lain yg mungkin muncul:
1. Pada pasien yang terisolasi
o Gangguan konsep diri (harga diri)
2. Pada pasien AIDS:
o Kecemasan, ketakutan
o Keputusasaan, ketidakberdayaan
C. Perencanaan
Tujuan yang akan dicapai
1. Mempertahankan / memulihkan pertahanan tubuh
2. Mencegah penyebaran infeksi
3. Mengurangi / mencegah permasalahan yang timbul karena infeksi
Perawatan Utk Mencegah Infeksi
1. Cuci tangan
2. Ganti alat / balutan ( bila ada )
3. Hati hati dlm menggunakan alat  utk menghindari perlukaan
4. Gunakan alat steril
5. Kaji keadaan yang steril
6. Berikan vaksin
7. Rawat pasien yang mengalami kenaikan suhu
8. Sediakan tempat sputum khusus
9. Batasi aktivitas pasien
10. Kaji tanda vital secara regular
11. Kaji suara nafas
12. Ambil specimen
13. Pendidikan kesehatan
14. Beri nuterisi dan cairan yang adekuat
15. Meningkatkan istirahat
16. Memberikan & memonitor pemberian therapy infeksi
D. Intervensi
Membersihkan tangan dari segala kotoran, dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai kebutuhan
Tujuan:
Mencegah terjadinya infeksi silang melalui tangan dan menjaga kebersihan perseorangan
Macam –macam cara mencuci tangan:
1. Cara biasa
2. Cara desinfeksi
3. Cara steril

KONSEP CEMAS

I. Pengertian
A. Cemas adalah perasaan tidak pasti/tidak menentu terhadap malapetaka atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang jelas.
B. Keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik
C. Kondisi yang dialami secara subjektif & diskomunikasikan dalam hubungan Interpersonal
D. Merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya.

II. Tingkatan Cemas
A. Cemas ringan
Terjadi dari hari ke hari dalam kehidupan. berhubungan dengan ketegangan dalam kekehidupan sehari-hari & menyebabkan seseorang waspada meningkatkan lahan persepsinya. Cemas dapat memotivasi belajar & menghasilkan pertumbuhan & kreativitas
B. Cemas Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting & mengesampingkan yg lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih rendah
C. Cemas Berat
Mengurangi lahan persepsi seseorang. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Memerlukan banyak pengarahan.
D. Panik
Berhubungan dengan kehilangan kontrol, ketakutan & terror, Karena kehilangan kendali orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan walaupun dengan pengarahan, panic memperlihatkan disorganisasi kepribadian. Dgn panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dgn orang lain, persepsi yang menyimpang & kehilangan pemikiran yang rasional.

III. Karakteristik Cemas
A. Cemas Ringan
• Agak tidak nyaman
• Gelisah
• Insomnia ringan
• Perubahan nafsu makan ringan
• Peka
• Pengulangan pertanyaan
• Perilaku kewaspadaan
• Peningkatan persepsi & masalah pemecahan masalah.
B. Cemas Sedang
• Perkembangan dari cemas ringan
• Perhatian terpilih pada lingkungan
• Konsentrasi hanya pada tugas-tugas individu
• Ketidaknyamanan subjektif sedang
• Peningkatan jumlah waktu yang digunakan pada situasi masalah
• Suara bergetar
• Perubahan dalam nada suara
• Tachipnoe
• Tachicardia
• Gemetaran
• Peningkatan ketegangan otot
• Menggigir kuku, memukul-mukul jari,mengetukkan jari kaki, menggoyang
C. Cemas Berat
• Perasaan terancam
• Ketegangan otot berlebihan
• Diaphoresis
• Perubahan pernafasan :
• Nafas panjang
• Hyperventilasi
• Dispnea
• Pusing
• Perubahan Gastro Intestinal
- Mual, muntah
- Rasa terbakab pada ulu hati
- Sendawa
- Anoreksia
- Diare atau konstipasi
• Perubahan Kardio Vaskuler
- Tachicardia
- Palpitasi
- Rasa tdk nyaman pada precordia
- Ketidakmampuan untuk belajar
• Rasa terisolasi
- Kesulitan atau ketidaktepatan pengungkapan
- Aktivitas yang tidak berguna
- Bermusuhan
D. Panik
• Hyperaktifitas atau mobilitas berat
• Rasa terisolasi yang ekstrim
• Kehilangan identitas, desintegrasi kepribadian
• Sangat goncang dan otot tegang
• Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap
• Distorsi, persepsi dan penilaian yang tidak realitas terhadap lingkungan dan ancaman.
• Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri
• Menyerang

IV. Fokus pengkajian pada Klien Cemas
A. Panik
• Palpitasi jantung
• Mulut kering
• Sulit bernafas
• Nausea
• Perspiration meningkat
• Tremors
• Nadi meningkat
• Tekanan darah meningkat
• Menangis
• Sulit untuk tidur
• Sulit untuk makan
B. Respon Psychologic
• Ekspresi sedih
• Rasa takut
• Marah
• Tidak percaya terhadap orang lain
• Rasa tidak berdaya
• Tidak punya harapan
• Ketidakmampuan memperhatikan
• Perubahan Sexual
C. Respon Sosial
• Menarik diri dari interaksi dgn orang lain
• Rasa bermusuhan terhadap orang lain
• Berpakaian tidak sesuai
• Perubahan komunikasi

V. Rencana Keperawatan & Tujuan
Tujuan
• Menurunkan tingkat cemas secara verbal dan menggunakan support sistem.
• Meningkatkan coping efektif melalui keterampilan pemecahan masalah & teknik menurunkan cemas
• Meningkatkan rasa nyaman
Tindakan
• Kaji status fisik, status sensory & status kognitif.
• Kaji latarbelakang budaya yang terdiri dari keyakinan tentang perawatan kesehatan pembatasan diet, dan bahasa.
• Kaji pengalaman masa lalu tentang pelayanan kesehatan
• Kaji perhatian dan stressor
• Kaji jumlah dan support sistem yang tersedia
• Sediakan informasi mengenai lingkungan sekitar :
o Seluruh petugas kesehatan baik nama atau pun tugasnya.
o Rutinitas dan kebijaksanaan
o Peralatan yang tersedia & cara penggunaannya.
• Merumuskan bersama tujuan & rencana yang akan dilakukan .
• Sediakan informasi mengenai prosedur yang akan dilakukan
• Gunakan bahasa verbal & non verbal sebagai alat komunikasi untuk memahami klien secara empaty
• Latih klien untuk menggunakan koping yang efektif.
• Ajarkan klien teknik/managemen menurunkan cemas

Selasa, 30 Maret 2010

konsep keluarga

KONSEP KELUARGA

A. PENGERTIAN / DEFINISI KELUARGA

WHO (1969)
Anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, Adopsi atau perkawinan.

DUVAL
Sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.

HELVIE (1981)
Keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam satu rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat.

BERGESS (1962)
1. Terdiri dari kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan/darah/adopsi.
2. Anggota tinggal bersama dalam satu rumah.
3. Anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran sosial.
4. Punya kebiasaan/kebudayaan yang berasal dari masyarakat tetapi mempunyai keunikan tersendiri.

B. PERAN KELUARGA
PERAN :
 Serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan.
 Target dari apa yang diharapkan yang harus dilakukan individu pada situasi tertentu untuk mencapai tujuan.
PERAN :
• FORMAL
• INFORMAL
FORMAL :
 Suami, isteri, orang tua.
 Pengasuh.
 Pemelihara rumah.
 Berhubungan dengan keluarga suami/istri
 Pemberi.
 Sexual.
INFORMAL :
 Inisiator.
 Dominator.
 Koordinator.
 Anggota Masyarakat
 DLL.

C. FUNGSI KELUARGA

1. WHO (1978)
Fungsi Biologis
• Reproduksi
• Pemelihara dan membesarkan anak.
• Memberi makan.
• Mempertahankan kesehatan.
• Rekreasi.

Prasyarat
• Manajemen Fertilitas.
• Kesehatan Genetik.
• Perawatan selama hamil.
• Prilaku konsumsi yang sehat.
• Melakukan perawatan.

Fungsi Ekonumi
• Ada sumber penghasilan.
• Menjamin keamanan finansial anggota keluarga.
• Menentukan alokasi sumber.

Prasyarat
Keluarga Mempunyai :
• Pengetahuan yang sesuai.
• Ketrampilan yang sesuai.
• Tanggung Jawab.

Fungsi Psikologis
• Menyediakan lingkungan yang dapat meningkatlan perkembangan kepribadian secara alami.
• Memberikan perlindungan psikologis yang optimum.

Prasyarat
• Emosi stabil.
• Perasaan antar anggota keluarga baik.
• Kemampuan untuk mengatasi stress dan krisis.

Fungsi Edukasi
Mengajarkan ketrampilan, sikap dan pengetahuan.

Prasyarat
Anggota keluarga harus mempunyai tingkat intelegensi.
 Pengetahuan, ketrampilan serta pengalaman yang sesuai.

Fungsi Sosiokultural
Transfer nilai-nilai yang berhubungan dengan :
• Prilaku.
• Tradisi/adat.
• Bahasa.

Prasyarat
• Keluarga harus mengetahui standar nilai yang dibutuhkan.
• Memberi contoh norma-norma prilaku
• Serta mempertahankannya.
2. FUNGSI KELUARGA (FRIEDMAN)
Fungsi Affective
• Perlindungan Psikologis.
• Rasa aman.
• Interaksi.
• Mendewasakan.
• Mengenal identitas diri individu.

Fungsi Sosialisasi Peran
• Fungsi dan peran di masyarakat.
• Sasaran untuk kontak sosial di dalam/di luar rumah.

Fungsi Reproduksi
• Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat.

Fungsi Memenuhi Kebutuhan Fisik dan Perawatan.
• Sandand, pangan dan papan.
• Perawatan Kesehatan.

Fungsi Ekonumi.
• Pengadaan sumber dana.
• Pengalokasian dana.
• Pengaturan keseimbangan.

Fungsi Pengontrol/Pengatur.
• Memberikan pendidikan, norma-norma.

3. FUNGSI KELUARGA (PP No. 21 Th. 1994)
Fungsi Keagamaan.
Wahana utama dan pertama menciptakan seluruh anggota keluarga menjadi insan yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Fungsi Sosial Budaya.
Menggali, mengembangkan dan melestarikan sosial budaya indonesia.

Fungsi Kasih Sayang.
Pengembangan rasa cinta dan kasih sayang setiap anggota keluarga, antar kerabat, antar generasi.

Fungsi Perlindungan.
• Memberikan rasa aman, tenteram lahir batin.
• Memberikan keteladanan.

Fungsi Reproduksi.
• Memberikan keturunan yang berkualitas melalui : pengaturan dan perencanaan yang sehat.
• Insan pembangunan yang handal.

Fungsi Pendidikan dan Sosialisasi
• Keluarga sebagai pendidikan utama dan pertama anggota keluarga → Meningkatkan fisik, mental, sosial dan spiritual.
• Secara serasi, selaras dan seimbang.
• Anggota keluarga → Menjadi panutan bagi masyarakat dan diri sendiri.

Fungsi Ekonumi
• Keluarga meningkatkan ketrampilan dalam usaha ekonumis produktif.
• Pendapatan keluarga meningkat.
• Kesejahteraan.

Fungsi Pembinaan Lingkungan
• Meningkatkan diri dalam lingkungan sosial budaya dan lingkungan alam → Serasi, selaras dan seimbang.

ALASAN KELUARGA SEBAGAI UNIT PELAYANAN
A. Keluarga merupakan bagian dari masyarakat yang dapat dijadikan gambaran dari manusia.
B. Prilaku keluarga dapat menimbulkan masalah, tetapi dapat pula mencegah masalah-masalah kesehatan dan menjadi sumber daya pemecah masalah kesehatan.
C. Masalah kesehatan di dalam keluarga akan saling mempengaruhi terhadap individu dalam keluarga.
D. Merupakan lingkungan yang serasi untuk mengembangkan potensi tiap individu dalam keluarga.
E. Keluarga merupakan pengambilan keputusan dalam mengatasi masalah.
F. Merupakan saluran yang efektif dalam menyalurkan dan mengembangkan kesehatan kepada masyarakat.

TYPE KELUARGA
1. Tradisional Nuclear.
Keluarga Inti (Ayah, ibu dan anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah.
2. Reconstituted Nuclear.
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah.
3. Middle Age / Aging Couple.
Suami sebagai pencari uang, istri di rumah/kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.
4. Dyadic Nuclear.
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak. Keduanya/salah satu bekerja di luar rumah.
5. Single Parent.
Satu orang tua sebagai akibat perceraian/kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah/di luar rumah.
6. Dual Carrier.
Suami istri/keduanya orang karier dan tanpa anak.
7. Commuter Married.
Suami istri/keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu.
Keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
8. Single Adult.
Wanita/pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untukkawin.
9. Three Generation.
Tiga generasi/lebih tinggl dalam satu rumah.
10. Institusional.
Anak-anak/orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
11. Comunal.
Satu rumah terdiri dari dua/lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
12. Group Marriage.
Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
13. Unmaried Parent and Child.
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
14. Cohibing Caiple.
Dua orang/satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.
15. Extended Famili.
Nuclear famili dan lain-lain famili tinggal dalam satu rumah dan berorientasi pada satu kepala keluarga.

PERKEMBANGAN KELUARGA
MINICHIN – 1974.
Siklus perkembangan keluarga merupakan komponen kunci dalam setiap kerangka kerja yang memandang keluarga sebagai suatu sistem.

DUVALL – 1950
Keluarga adalah unit dasar perkembangan.
Sistem keluarga tumbuh dan berubah serta mempunyai tugas perkembangan sendiri.

SIKLUS PERKEMBANGAN KELUARGA DAN TUGASNYA (DUVALL)
1. Keluarga Baru (Berginning Family)
Pasangan yang belum mempunyai anak.
Tugas :
• Membina hubungan dan kepuasan bersama.
• Menetapkan tujuan bersama.
• Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.
• Merencanakan anak – KB.
• Prenatal Care – Pengertiankehamilan, persalinan dan menjadi orang tua.

2. Child Bearing.
Anak I umur kurang dari 30 bulan.
Tugas :
• Membagi peran dan tanggung jawab.
• Menata ruang untuk anak.
• Biaya/dana Child Bearing.
• Memfasilitasi role learing anggota keluarga.
• Bertanggung jawab merawat anak.
• Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.

3. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah (Families With Preschool).
Usia anak I antara 30 bulan sampai 6 tahun.
Tugas Keluarga :
• Menyesuaikan pada kebutuhan dan minat anak pra sekolah.
 Perhatikan tukem, kebutuhan fisik, belajar, berfikir dan kontak sosial yang dibutuhkan anak.
• Merencanakan kelahiran berikut.
 Anak bertambah  Peningkatan tanggung jawab.

4. Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (Families With School Children).
Usia anak 6 – 13 tahun.
Tugas Keluarga :
• Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
• Menyediakan aktifitas untuk anak.
• Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikutsrtakan anak.

5. Keluarga dengan Anak Remaja (Families With Teenagers).
Usia anak 13 – 20 tahun.
Tugas Keluarga :
• Pengembangan terhadap remaja.
Þ Sertakan remaja dalam bertanggung jawab.
• Memelihara komunikasi terbuka.
Þ Cegah gep komunikasi.

6. Keluarga dengan Anak Dewasa (Launching Center Families).
Anak I meninggalkan rumah.
Tugas Keluarga :
• Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian anaknya.
• Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
• Berperan suami-istri kakek dan nenek.
• Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya.

7. Keluarga Usia Pertengahan(Middle Age Families).
Tugas Keluarga :
• Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan ®Mengolah minat sosial dan waktu santai.
• Memulihkan hubungan antara generasi muda tua.
• Keakrapan dengan pasangan.
• Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.
• Persiapan masa tua/pensiun.

8. Keluarga Lanjut usia.
Pensiun, saling rawat, kematian pasangan, sepi.
Tugas Keluarga :
• Penyesuaian tahap masa pensiun, cara hidup.
• Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan kematian.

KELUARGA SEJAHTERA

A. PENGERTIAN
Keluarga yang dibentuk atas dasar perkawinan yang syah mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki hubungan serasi, selaras dan seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (A. Mungit, 1996).

B. TUJUAN
• Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang masalah yang dihadapi.
• Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menganalisa potensi dan peluang yang dimilikinya.
• Meningkatnya kemauan masyarakay dalam memecahkan masalahnya secara mandiri.
• Meningkatnya gotong royong dan kesetia kawanan sosial dalam membantu keluarga khususnya keluarga prasejahtera untuk meningkatkan kesejahteraannya.

TAHAPAN KELUARGA SEJAHTERA

A. Keluarga pra sejahtera.
Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal.
Pada Keluarga pra sejahtera kebutuhan dasar belum seluruhnya terpenuhi yaitu :
1. Melaksanakan ibadah menurut agamanya oleh masing-masing anggota keluarga.
2. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali atau lebih.
3. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk aktifitas di rumah, bekerja, sekolah dan bepergian.
4. lantai rumah terluas bukan lantai tanah.
5. Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sarana kesehatan.

B. Keluarga Sejahtera I.
Yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal tetapi belum bapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya.
Pada Keluarga Sejahtera I kebutuhan dasar 1 sampai dengan 5 telah terpenuhi namun kebutuhan sosial psikologisnya belum terpenuhi yaitu :
6. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
7. Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyediakan daging/ikan/telur.
8. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru pertahun.
9. Luas lantai rumah paling kurang 8 M persegi untuk tiap penghuni rumah.
10. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat.
11. Paling kurang satu anggota keluarga 15 tahun keatas berpenghasilan tetap.
12. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa baca tulis huruf latin.
13. Seluruh anak berusia 5 – 15 tahun bersekolah pada saat ini.
14. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil).

C. Keluarga Sejahtera II.
Yaitu keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.
Pada Keluarga Sejahtera II, kebutuhan fisik dan sosial psikologis telah terpenuhi (1 s/d 14 terpenuhi), namun kebutuhan pengembangan belum sepenuhnya terpenuhi antara lain :
15. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.
16. Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
17. Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
18. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
19. Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 X / 6 bulan.
20. Dapat memperoleh berita dari surat kabar/radio/TV/majalah.
21. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi sesuai kondisi daerah.

D. Keluarga Sejahtera III.
Yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat, seperti sumbangan materi, dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Pada Keluarga Sejahtera III, kebutuhan fisik, sosial psikologis dan pengembangan telah terpenuhi (1 s/d 21 terpenuhi), namun keperdulian sosial belum terpenuhi, yaitu :
22. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil.
23. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.

E. Keluarga Sejahtera III Plus.
Keluarga Sejahtera III Plus, yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangannya telah terpenuhi serta memiliki keperdulian sosial yang tinggi (1 s/d 23 terpenuhi).

Askep hernia

H E R N I A

A. DEFENISI
Hernia (burut) adalah penonjolan abnormal dari suatu viscus ke luar dari rongga yang normal. Viscus adalah berbagai organ interior besar yang terdapat dalam rongga tubuh yang besar khususnya di abdomen. Cincin hernia adalah cincin dari jaringan muskuler (terbuka) melalui dimana viscus menonjol. Pembukaan dari dinding rongga dimana viscus menonjol mungkin bervariasi ukurannya dan mungkin congenital atau didapat. Penonjolan dari viscus mungkin intermitten atau terus menerus, tergantung dari jenis dan beratnya hernia. Walaupun istilah ini mungkin dipakai pada berbagai bagian tubuh (misalnya hernia diskus intervertebral, hernia cerebral, umumnya mengarah pada penonjolan suatu viskus abdomen dari rongga abdomen.

B. KLASIFIKASI
Hernia abdominal mungkin diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi dan beratnya protrusi. Daerah yang paling sering muncul adalah hiatal (diafragma), insisional (ventral), umbilical, inguinal (langsung atau tidak langsung), atau femoral.
Tingkat beratnya penyakit mungkin digambarkan dengan satu dari empat istilah : reducible (dapat kembali), irreducible, inkarserata atau strangulata. Pada hernia reducible, penonjolan dari viskus akan menyusut ke dalam abdomen secara mekanik jika penderita supinasi, atau secara manual dapat dikembalikan dengan menekan massa kembali ke rongga. Hernia irreducible tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga abdomen dengan cara apapun. Hernia inkarserata adalah keadaan dimana viskus yang menonjool bersifat irreducible dan obstruksi. Keadaan ini akan berakibat tersumbatnya aliran darah dari dan ke viskus, dan hernia menjadi strangulata. Kedua keadaan terakhir ini adalah serius dan perbedaan antara keduanya susah.
Hernia inkarserata dan strangulasi dianggap sebagai emergensi bedah karena viskus akan menjadi tersumbat secara akut, dan jika suplai darah tidak terpenuhi, maka dengan cepat menjadi nekrosis dan gangreng. Usus atau kandung kencing pada hernia femoral, adalah organ yang mungkin terdapat dalam kantong hernia dan oleh karenanya mengalami proses ini. Hernia inguinal indirek, umbilikal dan femoral adalah yang lebih sering mengalami strangulasi dari yang lain karena kantongnya mempunyai leher yang lebih kecil dan cenderung dikelilingi oleh jaringan cincin yang kaku, kebalikannya dari hernia inguinal direk, yang cenderung mempunyai leher yang lebih luas. Juga, perlengketan mungkin timbul antara kantong dan isinya dan menyebabkan hernia irreducible atau inkarserata.

C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Hernia abdominalis disebabkan oleh kombinasi dari kelemahan atau defek dari dinding otot dan peningkatan tekanan intra abdominal, defek dari dinding otot ini mungkin timbul dari kelainan congenital termasuk gangguan dari jaringan kolagen dan integritas otot, atau dari intervensi bedah sebelumnya, kelemahan dinding otot yang didapat mungkin terjadi sebagai akibat dari trauma atau dengan proses ketuaan.
Tekanan intraabdominal dapat meningkat oleh sejumlah keadaan lingkungan dan keadaan patologis tertentu. Meliputi kehamilan, obesitas, kerja keras (Manuver Valsava) seperti konstipasi lama, penekanan yang dikaitkan dengan tekhnik yang salah ketika mengangkat beban atau barang yang berat, mendorong atau menarik, asites, batuk kronis, dan pembesaran tumor atau lesi, tekanan intraabdominal yang meningkat, mungkin tidak akan menyebabkan hernia jika tidak disertai dengan kelemahan dinding otot.

D. TYPE HERNIA
1. Hiatal Hernia
Hiatal hernia adalah penonjolan dari bagian lambung melalui hiatus dari diafragma dan masuk ke dalam rongga thoraks, ada 2 jenis hiatal hernia:
a. Sliding hernia, lambung dan persambungan antara usofagus dan lambung tergelincir masuk ke dada (yang paling umum).
b. Paraesofagal hernia (rolling hernia) – bagian dari kurvatura mayor dari lambung masuk melalui defek diafragma.
Patofisiologi/etiologi
a. Kelemahan otot karena proses ketuaan atau keadaan lain, seperti karsinoma esophagus atau trauma, atau setelah prosedur bedah tertentu.
Manifestasi klinik
a. Mungkin tidak bergejala.
b. Heartburn/perasaan panas dalam perut (dengan atau tanpa regurgitasi dari isi lambung ke mulut)
c. Disfagia; nyeri dada.
Evaluasi diagnostik
a. Pemeriksaan barium dari hernia sepanjang esophagus.
b. Pemeriksaan endoskopi melihat defek.
Penanganan
a. Tinggikan bagian kepala tempat tidur (15-20 cm) / 6 – 8 inci untuk mengurangi refluks pada malam hari.
b. Therapi antasida  untuk menetralisir asam lambung.
c. Histamin-2 reseptor antagonis (cimetidin, rantidin) – jika pasien menjalani esofagitis.
d. Perbaikan bedah dari hernia jika gejala memberat.
Komplikasi
a. Inkarserata dari bagian lambung dalam rongga dada  terbatasnya aliran darah.
Tindakan keperawatan /Pembelajaran pasien
a. Anjurkan pasien pencegahan dari refluks isi lambung ke dalam esophagus dengan :
1). Makan sedikit-sedikit.
2). Menghindari rangsangan sekresi lambung dengan menghindari kafein dan alcohol.
3). Menghentikan merokok.
4). Menghindari makanan berlemak – meningkatkan refluks dan menghambat pengosongan lambung.
5). Menghindari berbaring terlentang paling tidak 1 jam setelah makan.
6). Menurunkan berat, jika obesitas.
7). Menghindari menekuk pinggang dan atau memakai pakaian yang ketat.
b. Nasehati pasien untuk melaporkan ke fasilitas kesehatan segera jika timbul nyeri dada akut – mungkin mengindikasikan inkarserasi dari hernia paraesofagal besar.
2. Hernia Abdominalis
Manifestasi klinik
a. Penonjolan diatas daerah hernia jika pasien berdiri atau menarik, dan menghilang jika terlentang.
b. Hernia cenderung bertambah ukurannya dan muncul kembali dengan tekanan intraabdominal.
c. Hernia strangulasi timbul disertai nyeri, muntah, oedema dari kantong hernia, tanda-tanda iritasi peritoneum dari abdominal bawah, demam.
Evaluasi diagnostik
Didasarkan pada manifestasi klinik :
a. Abdominal X rays – menampakkan keadaan abnormal dari tinggi gas dalam perut.
b. Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, elektrolit) – mungkin menunjukkan heokonsentrasi (peningkatan hematokrit), dehidrasi (peningkatan atau penurunan sodium), dan peningkatan WBC (eritrosit).
Penanganan
a. Mekanik (hanya pada hernia reducible)
1.) Pembebat dipasang dengan bantalan dan ikat pinggang yang dipasang dengan pas diatas hernia untuk mencegah isi abdomen masuk ke kantong hernia. Tidak mengobati hernia; digunakan hanya jika pasien tidak/bukan calon bedah.
2.) Hernia parastomal seringkali ditangani dengan ikat pinggang yang menyokong hernia dengan Velcro dan ditempatkan di sekitar system kantong ostomy (hampir sama dengan pembebat).
b. Pembedahan – dilakukan untuk memperbaiki hernia sebelum timbul strangulasi, yang kemudian menjadi keadaan emergensi.
1.) Herniorafi – pengangkatan dari kantong hernia, isinya dikembalikan ke dalam abdomen; lapisan otot dan fascia dijahit. Herniorafi laparoskopi mungkin, seringkali dilakukan pada pasien rawat jalan.
2.) Hernioplasti meliputi memperkuat jahitan (seringkali dengan mesh/alat untuk menautkan) untuk memperbaiki hernia yang luas.
3.) Hernia strangulasi memerlukan reseksi dari usus yang iskemia disamping memperbaiki hernia.
c. Komplikasi
Obstruksi usus.
Pengkajian keperawatan
1). Menanyakan kepada pasien apakah hernia memebesar dan tidak menyenangkan.
2). tentukan apakah pasien memperlihatkan tanda dan gejala strangulasi, seperti distensi, demam, mual dan muntah.
Diagnosa keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan penonjolan hernia (mekanik).
2. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur emergensi pada hernia strangulasi dan inkarserata.
Intervensi keperawatan :
a. Memberi rasa nyaman.
1.) Pasang pembebat atau ikat pinggang pada pasien jika hernia bersifat reduce (dapat kembali) jika dianjurkan.
2.) Posisi trendelenburg mungkin mengurangi tekanan pada hernia, jika memungkinkan.
3.) Menekankan pada pasien untuk memakai pembebat di dalam pakaian dan memasang sebelum bangun dari tempat tidur jika hernia bersifat reduce (dapat kembali).
4.) Evaluasi tanda dan gejala hernia inkarserata atau strangulasi.
5.) Pasang NGT, jika diindikasikan, untuk menghilangkan penekanan pada kantong hernia.
b. Menghilangkan nyeri post operasi.
1.) Anjurkan pasien membelat daerah insisi dengan tangan atau bantal jika batuk untuk mengurangi nyeri dan melindungi lokasi dari peningkatan tekanan intraabdominal.
2.) Berikan analgetik sesuai anjuran.
3.) Ajarkan tentang istirahat, pemberian es, dan elevasi skrotum sebagai tindakan yang dilakukan untuk mengurangi edema skrotum atau pembengkakan setelah perbaikan dari hernia inguinal.
4.) Ajarkan ambulasi segera setelah diperbolehkan.
5.) Nasehati pasien bahwa kesukaran dalam berkemih setelah pembedahan adalah hal yang umum terjadi; meningkatkan eliminasi untuk menghindari rasa tidak nyaman dan memasang catheter jika diperlukan.
c. Pencegahan infeksi
1.) Periksa pembalut drain dan insisi adanya kemerahan dan pembengkakan.
2.) Monitor tanda dan gejala infeksi lain; demam, dingin, malaise dan keringat berlebihan.
3.) Berikan antibiotik, jika diperlukan.
Pembelajaran pasien/memelihara kesehatan
1. Nasehati bahwa nyeri dan pembengkakan skrotum mungkin timbul 24 – 48 jam setelah pembedahan pada hernia inguinal.
2. Ajarkan untuk memonitor sendiri tanda-tanda infeksi : nyeri, perembesan dari insisi, peningkatan suhu, juga kesukaran yang terus menerus dalam buang air.
3. menginformasikan bahwa mengangkat beban harus dihindari selama 4 – 6 minggu. Atletik dan penggunaan tenaga yang berlebihan dihindari selama 8 sampai dengan 12 minggu post operasi, setiap pemberian istruksi.
Evaluasi
1. Hernia yang dapat dihilangkan secara efektif dengan pembebat atau ikat pinggang; pasien merasa nyaman ; tidak ada gejala dan infeksi.
2. Kebutuhan analgesik minimal; tidak timbul edema, ambulasi.
3. Tidak demam, luka bersih dan kering.









DAFTAR PUSTAKA

Patrick, et all. Medical Surgical Nursing (Pathophysiological Concepts). Second Edition, J.B. Lippincott Company. Spokane Washington. 1991. Page 1644.


Sandra M. Nettina. The Lippincott (Manual of Nursing Practice) Sixth Edition, Lippincott. Philadelphia New York. 1996. Part II page 506 – 507, 524 – 525.